Friday, November 26, 2021

Tidak Diharapkan

Tahukah kamu bagaimana rasanya hidup tidak diharapkan?
Ketika saya diam, mereka memperhatikan.
Ketika saya vokal, mereka tidak terima semua omongan.

Bagaimana saya harus menghadapinya?
Bahkan mendengarnya saja dada saya terasa sesak.
Penuh memenuhi jiwa yang hampa.
Tangis bukan lagi luapan kata berbaris tak terucap.
Ia lebih dari sekadar takutnya kesendirian jiwa yang menancap.

Kalau dipikir, dari awal saya memang tidak ada apa-apa.
Jangankan rumah, kamarpun saya hanya berbekal sendu penuh iba.
Tidak ada yang dibanggakan.
Tidak ada yang diharapkan.

Saya pandangi layar handphone, tak kunjung ada kesenangan malah menangis kemudian.
Saya beranjak bebersih kamar, saya lanjutkan membersihkan badan, bukannya tangis mereda, lelah justru tak kunjung sirna.
Saya rebahkan badan di kasur, menjelajahi dunia maya, senyum tak jua terukir, justru sepi kembali dibawa angin semilir.

Di sini..
Di kamar ini..
Saya kembali merenungi yang terjadi..
Apakah saya benar tidak diharapkan lagi?

Thursday, July 8, 2021

So Confused

Doaku selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan, keberkahan kebaikan untuk kamu sekeluarga dan kita semua. Aamiin
Jujur, aku malu.
Sangat malu.
Aku benar-benar tidak mau seperti ini.
Aku malu. Namun, diamku lebih pilu.
Aku tidak mau sakit. Tidak ada orang yang mau sakit. Tidak ada yang mau ketergantungan obat. Tidak ada yang mau pola hidupnya berantakan. Tidak ada yang mau sakit fisik maupun mental. Aku sudah melakukan banyak pengobatan. Aku sudah mengikuti banyak saran. Tidak cuma satu-dua hal tapi hampir semua yang pernah aku baca dan dengar. 
Aku tidak mau keluarga berantakan. Tidak ada yang mau. Tidak mungkin ada orang yang umbar semua kebobrokan dapurnya ke orang lain. Semua maunya pasti keluarga yang harmonis.
Aku tidak mau pengangguran. Tidak ada orang yang mau tidak ada uang. Aku tidak hanya diam rebahan. Aku juga menebar lamaran, aku datang tes dimana-mana, aku coba usaha ini-itu. Aku juga ingin usahaku terus berkembang. Tidak mau terus ketergantungan. Tidak sekali-dua kali aku gagal berjuang mendapat pekerjaan.
Aku cukup insecure dengan semua kelemahanku. But i'm still here, trying to survive. Selain diri sendiri, aku masih ada Ibu berumur 68 tahun. Tidak dipungkiri setiap hari berpikir mati, terlebih ketika kambuh menghampiri. Aku ingin keluar dari rasa sakit ini tapi aku tidak tau jalannya. Capek banget rasanya. Pengen marah sama hidup dan keadaanpun seperti percuma.
Tiap bulan, harus bayar BPJS untuk bisa tetap rawat jalan. Obat rutin 4x sehari dengan total yang biaya yang tidak sedikit. Ibu yang nyeri dan sakit tulang, sendi juga butuh obat herbal dan vitamin. Itu beberapa pengeluaran utama yang aku pakai dana sendiri karena kakak dan saudara juga sedang kesulitan ekonomi dan tidak dapat membantu.
Sebelumnya, aku tidak pernah berpikir akan menggalang dana, meminjam uang, bahkan mengemis online.
Jujur aku malu meminjam dan meminta-minta uang pada banyak orang. Bukan hanya teman tetapi banyak orang yang kukenal hingga orang-orang yang tidak mengenalku. Dengan sangat baiknya aku mendapat banyak bantuan. 
Tetapi umurku masih berjalan, kebutuhankupun demikian. Aku frustasi ketika usahaku tidak menutup pembelian obatku dimana pengeluaranku lebih besar dari pemasukan. 
Aku tahu orang-orang juga banyak kebutuhan. Mereka juga mungkin bosan membaca chatku yang berisi keluhan dan meminjam bahkan meminta uang. Aku sadar aku sangat merepotkan dan menambah beban. Tetapi tolong maafkan aku 🙏🙏🙏
Aku tidak pernah bermaksud demikian. Aku bingung.
Aku susah terbuka tentang hidupku karena aku tau begitu aku percaya dengan orang, aku akan membanjiri hidupnya dengan cerita dan keluhanku. Mungkin terdengar tidak tahu diri tapi aku benar-benar kesepian dan aku lelah melepaskan penat sendirian. Menangis di bawah bantal, lega sesaat tetapi amarah itu kembali lagi perlahan.
Aku tahu banyak orang kecewa padaku. Aku yang dipercaya telah diberi bantuan seperti tidak tahu malu merongrong terus-terusan. Aku sadar aku sangat menyusahkan. Tolong maafkan aku 🙏🙏🙏
Aku stres.
Aku tidak tahu harus bagaimana dan kemana lagi mencari bantuan. 
Tolong jangan membenciku. Tolong maafkan aku 🙏

When We Were Young

Aku rindu.
Dan aku takut.
Bisakah aku meminta waktu sebentar?
Sebelum semuanya berubah, sebelum semuanya pergi.
Aku duduk sendirian sepanjang malam. Kesepian.
Aku takut menghadapi ketakutanku.
Mereka mengatakan ini memang tidak mudah tapi tidak ada yang mengatakan ini susah.
Sembari aku menerka, aku kembali memutarnya dalam ingatan.
Benar adanya jika tidak ada yang sama diwaktu yang berbeda.
Sampai aku menyadari kita sudah dan sedih menjadi tua.
Kita gelisah ketika momen berputar seperti lagu dan film.
Semua pernah ada, semua nyata.
Hal yang tidak mungkin terjadi adalah kembali ke masa itu.
Meski semua kenangannya membawaku kembali ketika kita muda.
Saat aku, kita dan semua ada di sana.
Mungkin bagian diriku sedang bertahan dalam kejadian yang tidak bisa diperbaiki.
Hanya berdiri, mengingat dan merindukannya.

Tuesday, July 6, 2021

Tidak Dihargai

Niat hati ingin membuat senang. Mengingat hal tersebut merupakan kebutuhan positif. Tetapi benar adanya, jatuhkan ekspektasimu dititik terendah agar dirimu terbebas dari kecewa.
Sebelumnya, barang tersebut sudah pernah ditanyakan dan sudah mendapat jawaban. Hanya karena belum diiyakan, ketika barang datang dan tidak sesuai harapan, dengan mudahnya emosi diluapkan.
Bukan hanya sekadar marah, kalimat menghina, menghardik bahkan mencacipun dilontarkan.
Begitu susahnyakah untuk menghargai pemberian orang?
Mengapa kamu tidak bisa menghargai niatan baik seseorang?
Jika kamu tidak bisa untuk berucap baik, setidaknya jangan berucap jahat.
Saya tidak meminta ucapan terima kasih, pujian ataupun kalimat sanjungan.
Cukup jangan sakiti hati saya dengan ucapan jahanam juga kelakuan persetan!

Sunday, July 4, 2021

Capek

Sudah beberapa hari ini tangan Ibuku sakit. Bahkan untuk iket rambut aja tangannya beliau susah.
Makanya obatku tuh kayak ga mempan buat redain stres yang terus ditambah beban pikirannya.
Aku Yatim. Kakak ga bisa bantu pengobatan karena kesulitan juga. Saudara juga sama. Aku bertahan juga karena Ibu yang sekarang udh 68 tahun. Aku takut. Saking stresnya cuma bisa marah dan nangis sama hidup.
Ibu dan aku masi ikut keluarga kakakku untuk makan. Kami sekarang numpang di rumah saudara udah 10 bulan. Aku cuma punya Ibu tapi yang ada aku malah nyusahin beliau dengan penyakitan ini. Aku capek banget idup tiap hari mikir mati tapi mikir Ibu. Aku udah telen semua omongan dan penghakiman orang. Aku udah mutus urat malu pinjem, galang dana dan minta2. Aku juga gamau idup begini. Aku capek